Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Friday, June 1, 2018

Catatan Akhir Sekolah : Bagian 5 “Hobi dan Cita-cita”

khansha hanak
Gambar yang pernah saya buat saat berusia 8 tahun
Setiap orang memiliki cerita tentang hobi dan cita-cita yang unik. Saya menemukan hobi lewat cara-cara cenderung tidak sengaja dan bukan karena arahan orang tua. Orang tua jelas mendukung dan membiarkan saya berkreasi sendiri. Sejak kecil, orangtua saya tidak pernah memaksa untuk mengikuti kelas les dll mereka memberikan kebebasan untuk menemukan  hobi saya sendiri. Apabila ditanya apa hobi saya, saya cenderung orang yang random, jujur saya tertarik dengan banyak hal. Tetapi ada beberapa hobi yang memang saya tekuni sejak kecil, yaitu menulis dan hal-hal yang berkaitan dengan IT.
Saya ingat waktu berusia sekitar 7 tahun saya mulai menyadari bahwa saya suka menulis. Saya merasa nyaman bisa menumpahkan isi kepala saya ke dalam guratan pena, karena kertas pun tak pernah akan menghakimi. Lomba yang pertama kali saya ikuti waktu itu adalah menulis sinopsis, untuk usia kelas 2 SD, yang saat itu kata sinopsis bahkan terasa asing buat saya, tetapi setelah dijelaskan dengan singkat saya langsung menulis dan mengalir begitu saja dan dari situ saya mendapatkan prestasi pertama saya. Setelah ketidaksengajaan mengikuti lomba dan membuahkan hasil yang baik, saya mulai jatuh cinta dengan dunia jurnalistik, jadilah sejak kelas 3 SD saya mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik. 
Saya juga mulai tertarik dengan dunia komputer dan IT sejak umur 6 tahun, semua aplikasi saya buka dan berusaha menguasai cara penggunaannya secara otodidak. Sebelum ada smartphone, saya sejak kecil sudah betah berlama-lama di depan komputer, tetapi bukan untuk bermain game, saya lebih tertarik untuk menguasai program yang ada di komputer. 
Saya pun berusaha menggabungkan kedua interest, saya mulai mengetik tulisan saya tidak sekedar tulisan tangan di buku harian. Saya pernah punya cita-cita untuk menerbitkan bukuπŸ˜‚ pada saat usia 10 tahun ketika KKPK populer, saya sempat ingin menjadi salah satunya. Saya mulai menulis cerpen. Namun, ketika menginjak usia 12 tahun, kesibukan mengejar target akademik sedikit mengubur cita-cita saya, tapi terkadang masih menyempatkan diri untuk menulis di buku harian berbicara tentang masalah personal. Di usia sekitar 13 tahun/ 14 tahun, saya mulai jarang menulis di buku harian, saya mulai menulis di blog, mencoba memahami tulisan sastra sekaligus penggunaan kode dalam blog. 
Usia 15-16 tahun saya mulai berpikir untuk menjadikan hobi saya sebagai kontribusi untuk sesama, sehingga saya memutuskan untuk menggunakan blog sebagai media untuk berbagi materi pelajaran kepada teman-teman. Usia 17 tahun kurang lebih sama dengan keadaan saat saya berusia 12 tahun, menyibukkan diri dengan urusan tahun ketiga SMA. Beruntung setelah kesibukan mereda saya bisa meluangkan waktu untuk menulis lagi walaupun sifatnya menjadi lebih personal.
Untuk hobi saya di dunia TI, saya lebih suka mengisi waktu dengan mengikuti forum online, salah satunya menjadi Google Local Guide, kontributor online untuk Google Maps. Meskipun menjadi kontributor ini secara sukarela, saya mendapatkan banyak manfaat, mulai dari teman-teman sesama local guide, informasi-informasi terbaru tentang dunia IT, dan Google juga beberapa kali memberikan voucher belanja, hotel, pulsa dll secara cuma-cuma. Selain itu, saya ikut menjadi warga Kota Solo yang baik dengan membantu orang lain untuk memberikan informasi tentang Kota Solo. Intinya menjadi seorang Local Guide memang bertujuan untuk mempromosikan daerah masing-masing sekaligus membantu google untuk menyempurnakan informasi pada google maps. Ulasan, foto, dan perbaikan informasi tempat di google maps tidak lepas dari kontribusi para local guide lho :)
Kadang saya merasa mager untuk menulis, beruntung saya punya teman-teman yang selalu memotivasi saya untuk kembali menulis (terutama bagi para co-author yang selama ini sudah banyak membantu saya ). Kadang motivasi juga datang dengan cara yang tak terduga, berawal dari saling curhat antar teman, saya menyadari kalau ada banyak hal yang seharusnya bisa dikatakan tetapi terkadang hanya bisa terpendam di dalam pikiran, saya berpikir “hey, kenapa tidak dituliskan saja? Siapa tau ada banyak teman yang merasakan hal yang sama juga.” Meskipun Catatan akhir Sekolah yang saya tulis baru sampai 5 bagian, ternyata mendapat feedback positif dari teman-teman, dan benar saja memang teman-teman juga merasakan hal yang sama. 

POJOK CO-AUTHOR

Co-author 1 (@rayyanars)




Bicara korelasi hobi dengan cita-cita...
Hampir semua hobi saya berhubungan dengan seni. Dari fotografi, menggambar, bermusik, hingga menonton film. Dan semua itu saya lakukan dengan senang hati untuk mengasah bakat seni yang saya miliki.
Sebagai orang yang suka sama industri kreatif, saya dituntut untuk selalu berinovasi memunculkan ide-ide kreatif, yang kalo orang lihat langsung bilang “Kok bisa bagus gitu ya?”. Tapi untuk bisa jadi kreatif tidak bisa instan, butuh banyak belajar dan pengalaman. Yang paling penting adalah belajar dari kesalahan, misal kalo saya motret “Duh, kok fotonya ‘flat’ gini ya”. Dari itu saya belajar bagaimana biar foto itu tidak terkesan ‘flat’, entah itu bereksperimen dengan angle atau eksposurnya. 

Kemudian saya sering berpikiran kalo foto bagus dihasilkan dengan kamera yang ‘high-end’. Itu tidak selamanya benar, karena kamera terbaik adalah kamera yang paling kita kuasai, apalagi kalo skill udah dewa, pakai kamera HP aja bisa bagus.
Yang paling saya suka itu ketika menambah jam terbang. Karena semakin banyak jam terbang semakin banyak pengalaman yang kita dapat. Jika ada waktu luang saya selalu menyempatkan untuk hunting, bisa makro-an di kebon rumah, motret mainan. Nah kalo lagi ada temen biasanya motret yang jauh-jauh, kaya landscape, atau birding. Ketika sudah berpengalaman maka ide kreatif itu akan muncul dengan sendirinya.

Dari semua hobi saya, saya lebih fokus untuk mendalami fotografi. Saya sendiri bercita-cita supaya hobi tersebut bisa menjadi profesi. Kan enak kalo profesi kita sesuatu yang kita sukai. Apalagi kalo fotografer, bakalan kerja sambil travelling...

Co-author 2 (@fariz_qinanda)


Memang dari TK aku diikutin les musik sama orang tua, ya walaupun cuma drum band sih :v Motivasinya, katanya, menyeimbangkan otak kanan sama kiri 😌 Nah, pas SD sekitar kelas 4 aku dimasukin ke les piano. Catatan aja, kalau mau belajar musik memang paling enak dari piano dulu, soalnya dasarannya ada di situ, dan mainnya enak tinggal pencet tuts. Oke, itu sampai kelas 6, soalnya ada UN.
Lanjut ke SMP, aku rencana mau pindah dari piano. Aku Bimbang antara mau pilih gitar apa drum. Aslinya asik ngedrum sih πŸ˜‚ Tapi, ya karena kalau nge-drum latihannya nggak bisa di rumah dan keliatan nggak fleksibel, aku pilih gitar πŸ‘Œ Sekian tahun latihan, baru pas SMP akhir aku bisa menyalurkan hobiku sama teman-temanku. Ya soalnya SMP ku kan SMP Islam dan musik nggak diterapkan di sana πŸ˜‚
Mulai dari situ aku ngerasa seneng, soalnya emang bisa dapet teman. Masuk ke SMA, negeri kan, ya jadi dapet teman banyak karena hobi itu, dari situ aku juga belajar dari temen temen, enjoy~ Mungkin rencanaku ke depan di kuliah aku mau join sama grup bandnya, jadi biar lebih terarah. Jujur, hobiku cuma tak buat sampingan, jadi ya kebanyakan untuk aku sendiri.

Co-author 3 (@febionalita)

Ngomongin soal hobi dan cita-cita, kayaknya aku udah salah jalan sejak dulu πŸ˜‚. Hobiku itu ngelukis, fotografi sama travelling. Kalau cita-cita kayaknya banyak banget, dari jadi ahli di konservasi (aku batalin cita-cita ini gara-gara udah gak kuat belajar biologi sama kimia πŸ˜‚), penjelajah, jurnalis, desainer, fotografer dan jadi film maker. Tapi sekarang aku mau fokus omongin hobi gambar.
Dari TK aku udah hobi ngegambar dan hobi itu terus lanjut sampe sekarang. Mulai dari gambar pake pensil sama bolpoin di tembok waktu kecil,  sampe sekarang yang udah nyoba pake berbagai macam alat dan bahan (perlu ditekankan aku disini hobi bukan orang yang udah proπŸ˜‚). Kalau udah lagi ngegambar rasanya  asik banget, aku kuat ngelakuin itu berjam-jam sampe aku ngerasa puas. Uang yang aku keluarin juga kalau dihitung menurutku udah lumayan banyak. Alat yang kebeli juga udah lumayan, dari cat minyak, cat poster, cat air, cat acrylic, brush pen, waterbrush dan lainnya. Dari semua itu yang paling aku suka cat air. Aku suka cat ini karena pengaplikasiannya gampang dan warnanya lucu.
Sampai sekarang hobi ngegambar ini cuman berguna buat bikin kartu ucapan, ngewarnain tembok kamar sama bantuin ngerjain tugas  adekku πŸ˜‚. Tapi ada satu hal yang menurutku paling berguna untukku, yaitu sebagai pelarian. Seketika semua masalah yang ada di depan bisa lupa dan rasanya bisa jadi tenang, yaa walaupun akhirnya balik lagi.
Sejauh ini semua hobiku didukung semua orang di sekitarku. Orang tua juga ngasih fasilitas buat hobiku. Tapi yang paling tidak mendukung malah pendidikan yang aku ambil. Aku cuman ngikutin arus yang dianggap masyarakat itu yang paling oke dan paling keren. Cukup bangga juga sih kalo ditanya orang asing sekolah dimana, tapi di sekolah aku cukup sering ngerasain: 'apa sih ini, gak guna!'. Hehehe aku  terjebak dijurusan IPA :). Sebagai anak yang udah kecemplung di-IPA sehari-hari (terutama kelas 12)  kerjaanku nyariin x mulu, waktu untuk hobiku berkurang dan susah untuk ngembangin hobi. Ini jadi salah satu penyesalanku, aku cuman sibuk sama sekolah yang aku tau gak begitu suka dan jarang ngelakuin hobi. Hasilnya aku gak pernah ahli dalam apa pun, semuanya setengah-setengah. Agak sedih juga kalau dipikirin.
Pada akhirnya sebagai yang suka menggambar dan sudah terjebak dijurusan IPA, pilihanku cuman satu: ARSITEKTUR. Jurusan yang pas kecil enggak pernah kepikiran. Toh itu cuman jurusan, aku gak tau hasilnya nanti gimana. Lagipula salah satu penulis novel fiksi favoritku ternyata lulusan teknik sipil dan salah satu aktivis Bahasa Indonesia yang baik dan benar yang aku tau ternyata seorang lulusan teknik kimia. Kesimpulannya walaupun aku udah ngambil jalan yang salah dan berakhir kayak gini, aku tetep mau ngejar cita-cita yang lain :). Semangat buat temen-temen yang udah salah jalan juga, ini bukan akhir dari hidup πŸ˜‚.

Epilog

Menulis Catatan Akhir Sekolah bagi saya adalah cara untuk menutup luka hati, menghilangkan kekecewaan, dan merangkum kejadian yang saya alami saat SMA menjadi karya yang positif yang semoga bisa menginspirasi dan dapat membantu teman-teman saya dalam menyuarakan opini dan segala curahan hati. Berkat menulis CAS saya juga bisa berkomunikasi lebih dalam dengan teman-teman, saling mengisi, dan saling memahami. Sejauh ini menulis mengusir rasa kesepian, kegabutan, dan mager. Saya sadar kalau ternyata saya tidak sendiri, dan bersama teman-teman, kami bisa menyikapi suatu problema dengan lebih bijak, melihat dengan dua sudut pandang dan mencari solusi yang terbaik.
Menjelang usia 18 tahun saya memutuskan untuk mengambil langkah serius dalam ketertarikan saya terhadap dunia IT, dengan meneruskan kuliah saya di prodi Teknologi Informasi, tapi satu yang pasti, saya berharap untuk tidak pernah berhenti menulis.

khansha hanak / Author & Editor

Just a little girl in a big world.

0 comments:

Post a Comment

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates